ARES123 membuka pembahasan Ares lewat satu pembedaan penting: dewa perang tidak otomatis menjadi lambang kepahlawanan. Dalam mitologi Yunani, Ares adalah putra Zeus dan Hera serta salah satu dari dua belas dewa Olimpus. Ia lekat dengan perang, tetapi penggambarannya juga menonjolkan darah, pembunuhan, dan kengerian yang menyertainya [1].
Perang punya lebih dari satu wajah
Ranah Ares mencakup alat perang, penyerangan dan pertahanan kota, pemberontakan, penjarahan, serta keberanian [1]. Rentang ini menunjukkan bahwa sosoknya dikaitkan dengan banyak sisi peperangan, bukan hanya keberanian di medan tempur.
Perbandingannya dengan Athena memperjelas perbedaan itu. Athena melambangkan kebijaksanaan dan strategi perang, sedangkan Ares diasosiasikan dengan kebrutalan, kekejaman, dan horor perang [1]. Ares juga digambarkan menyukai perang demi kesenangannya sendiri dan kadang berpihak pada kubu yang berbeda-beda [1]. Karena itu, menyebutnya dewa perang tidak serta-merta menjadikannya pahlawan yang memperjuangkan satu tujuan mulia.
Dewa perang yang juga bisa kalah
Penggambaran Ares tidak selalu sama dalam setiap kisah. Dalam Iliad, ia muncul dikelilingi penjelmaan kengerian perang, sementara karakternya dalam Odyssey disebut sedikit lebih lunak [1]. Perbedaan ini membuat Ares lebih menarik daripada sosok yang hanya punya satu sifat tetap.
Ia pun bukan petarung yang selalu menang. Athena beberapa kali mengalahkannya, sementara Herakles dan Diomedes pernah melukainya; Ares juga dikalahkan oleh Aloadai, sepasang raksasa [1]. Gelar dewa perang, dengan demikian, tidak berarti ia tak terkalahkan.
Kisahnya melampaui medan tempur
Ares juga dikaitkan dengan pendirian kota Thebes [1]. Kisahnya mencakup hubungan dengan Afrodit: setelah perselingkuhan mereka terungkap, Ares pergi ke Trakia [1]. Rangkaian ini menempatkannya bukan hanya dalam cerita tentang pertempuran, tetapi juga dalam kisah yang melibatkan kota dan hubungan antardewa.
Kedudukan Ares di antara para dewa
Ares termasuk kalangan Olimpus, tetapi posisinya di antara para dewa tidak digambarkan nyaman. Ia disebut sebagai dewa yang paling tidak dipercaya, dan kisah dalam Iliad memuat kecaman Zeus terhadap kesukaannya pada perselisihan, perang, dan pembantaian [1]. Kontras inilah yang memberi warna pada sosok Ares: ia memiliki kedudukan sebagai dewa perang, namun perang dalam kisahnya lebih sering tampil sebagai keganasan dan kekacauan daripada jalan menuju kepahlawanan.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Ares. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29918169&title=Ares (diakses 2026-10-02).